Politik Ruang Publik di Alun Alun Selatan Yogyakarta

Di tengah hiruk pikuk geliat aktivitas masyarakat perkotaan sangat dibutuhkan sebuah ruang untuk berinteraksi dengan orang lain atau disebut ruang bersama atau ruang publik.. Ruang bersama/publik merupakan sesuatu yang penting untuk memahami bagaimana cara membagi cara penggunaan sumber daya ruang. Penggunaan ruang dan fasilitas bersama dalam satu sisi akan menghemat energi, biaya, efisien, dan interaksi sosial.

Pada artikel isu perkotaan ini, akan dibahas salah satu ruang publik atau ruang bersama di salah satu kota yang terkenal di Indonesia yaitu Kota Yogyakarta. Di Kota Yogyakarta terdapat ruang publik atau ruang bersama yang populer yaitu Alun-Alun baik Alun Alun Utara maupun Alun Alun Selatan. Namun kali ini saya akan membahas politik ruang publik atau ruang bersama di Alun Alun Selatan Jogja.


Salah satu ruang bersama atau ruang publik berbentuk taman di Kota Yogyakarta ini memiliki sejarah pembangunan yang menarik. Dahulu alun-alun ini dibangun sebagai tempat untuk merawat gajah-gajah milik keraton, namun seiring dengan waktu alun-alun ini mempunyai fungsi sebagai ruang terbuka atau open space untuk tempat interaksi sosial dan kegiatan komersial. Daya tarik utama yang dimiliki alun-alun selatan bagi pengunjung yaitu adanya dua Pohon Banyan yang berdiri di tengah alun-alun. Atraksi disebut masangin. Masangin adalah istilah yang digunakan untuk siapa saja yang mencoba berjalan melewati dua pohon beringin dari jarak 20-50 meter dengan mata tertutup. 

Banyaknya pengunjung yang datang di alun-alun selatan Yogyakarta, terutama pada saat malam minggu dan minggu pagi mengakibatkan para pedagang kaki lima (PKL) pun mulai berdatangan. Begitu pula dengan pengunjung yang memarkirkan kendaraan sembarangan sehingga menjadikan kesan alun-alun terlihat kumuh dan semrawut. Masalah yang lainnya yaitu sampah-sampah yang dibuang oleh para pengunjung yang kurang peduli terhadap lingkungan serta terganggunya akses lalu lintas karena kendaraan yang banyak diparkirkan di sisi jalan atau on street parking. Tidak adanya toilet umum juga membuat alun-alun selatan kadang berbau pesing, khususnya di beberapa titik seperti di dekat gawang atau di dekat fasilitas olahraga karena banyaknya kaum pria yang buang air kecil sembarangan.

PKL alun alun selatan yogyakarta


Penataan Ruang Alun Alun Selatan Yogyakarta 


Dengan berbagai masalah akibat politik ruang publik di alun alun selatan Yogyakarta, maka dari itu untuk mengembalikan fungsi alun-alun selatan Jogja sebagai tempat interaksi sosial namun tidak menjadikan kesan alun-alun menjadi semrawut perlu adanya penataan fisik selain penataan perilaku masyarakatnya.

Untuk memperbaiki citra alun-alun selatan Jogja sebagai  open space atau ruang terbuka yang menjunjung tinggi nilai keindahan dan budaya, dibutuhkan sedikit perubahan dan penambahan sarana penunjang. Cara untuk mengatasi permasalahan tersebut diantaranya yaitu dengan membatasi jumlah pedagang kaki lima atau PKL yang berdagang dan menyeragamkan bentuk warung pedagang kaki lima atau PKL guna memperindah kondisi alun-alun, mendirikan lahan parkir bawah tanah karena dengan adanya parkir bawah tanah dapat menjadi alternatif solusi yang otomatis akan membuat kawasan alun-alun menjadi bersih dan tidak mengganggu lalu lintas saat waktu-waktu ramai seperti hari sabtu dan minggu, penambahan kotak sampah serta peletakan kotak sampah yang strategis agar para pengunjung membuang sampah pada tempatnya, dan dibangunnya toitet umum.

0 Response to "Politik Ruang Publik di Alun Alun Selatan Yogyakarta"

Post a Comment

Berikan komentar disini...