Masalah Perkembangan Kota dan Kawasan Sekitar Kampus UGM: Studi Kasus Pogung Rejo Yogyakarta

Dalam melihat perkembangan kota dan wilayah sekitar kampus UGM ini dilakukan dengan cara menganalisis daerah dari segi kondisi fisik, keadaan serta penataan warung, dan infrastruktur jalan. Daerah Pogung Rejo menjadi salah satu kawasan yang menarik untuk diamati karena daerah ini sangat cepat berkembang pasca dibangunnya kampus Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Daerah ini dapat tumbuh secara mandiri terutama di sektor ekonomi.

Kondisi Fisik dan Infrastruktur Kawasan Kampus UGM


Seperti yang diketahui sebelumnya, dari segi administrasinya Pogung Rejo termasuk dalam wilayah Kelurahan Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman. Pogung merupakan daerah yang berkembang pesat terutama dalam bidang ekonomi karena adanya kampus Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang secara tidak langsung mendorong warga Pogung untuk membuat kos-kosan dan warung-warung dan jasa perdagangan lain untuk kebutuhan para mahasiswa Universitas Gadjah Mada setiap harinya.

Dari analisis yang dihasilkan akan mampu mengetahui fenomena sosial yang terjadi di daerah Pogung, Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta ini dari segi sosial serta infrastruktur jalannya dan hubungannya dengan ruang. Pada bagian pembahasan, akan dijelaskan masalah-masalah yang terjadi serta hubungannya dengan interaksi sosial yang ada. 

Masalah perkotaan yang dominan di daerah daerah kampus seperti ini adalah aksesibiltas dan fisik kawasan yang terlihat sempit dan kumuh. Infrastruktur jalan di kawasan Pogung Rejo memang masih minim sehingga masalah yang banyak timbul di daerah ini tidak jauh berkaitan dengan infrastruktur jalan dan transportasi yang sering menjadi hambatan, serta penataan warung yang kurang baik.

perkembangan kota sekitar kampus UGM


Secara fisik daerah, perkembangan wilayah Pogung terjadi secara tidak teratur dan liar, terutama penataan dan persebaran warung makan yang tidak tertata sehingga tampak berantakan dan tidak teratur. Masalah perijinan bangunan juga sangat diabaikan oleh pemilik bangunan karena kebanyakan tidak ada ijin dari pemerintah daerah untuk mendirikan bangunan tersebut secara sah. Sedangkan pada kenyataannya, perkembangan wilayah Pogung didominasi oleh bangunan-bangunan berupa kos-kosan dan bangunan-bangunan lain di bidang perdagangan dan jasa. Daerah ini sesungguhnya merupakan daerah yang illegal untuk mendirikan bangunan, tetapi fungsi lahan Pogung bergeser seiring dengan adanya kampus Teknik Universitas Gadjah Mada yang memang dekat dengan daerah Pogung. Hal inilah yang secara spontan mendorong masyarakat sekitar untuk membangun kos-kosan untuk tempat mahasiswa tinggal dan bangunan-bangunan warung makan. Konsekuensi dari kos-kosan yang dekat dengan kampus adalah tingginya harga sewa per kamar tiap tahunnya. Ini juga yang mendorong masyarakat lain untuk membuat bangunan-bangunan kos di daerah ini demi mendapatkan profit sebesar-besarnya, seolah tempat ini menjadi lahan yang tepat untuk mendirikan usaha. Daerah ini menjadi semakin padat dengan bangunan yang tidak teratur. Ini menjadikan daerah Pogung sebagai perumahan kampung yang mengalami pemadatan dengan cepat. 

Peraturan Tata Ruang yang Mengikat


Sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), suatu kawasan pada intinya adalah ruang kehidupan dalam konteks wilayah. Dalam perwujudannya, ruang tersebut dibentuk oleh 4 unsur utama, yaitu :

  • Sumber Daya Alam (SDA). Segala bentuk sumber daya yang berasal dari alam. Contoh : air, flora dan fauna.
  • Sumber Daya Buatan (SDB). Segala bentuk sumber daya yang dibuat oleh manusia untuk menunjang aktivitasnya. Contohnya : bangunan, gedung, jalan raya, bendungan dan infrastruktur lainnya.
  • Sumber Daya Manusia (SDM). Kekuatan yang bersumber dari kualitas manusia yang mengelola dan memanfaatkan ruang.
  • Aktivitas. Segala kegiatan yang menyangkut aspek politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan/keamanan.


Berdasarkan ketentuan RTRWN, daerah Pogung sudah termasuk ke dalam suatu ruang kota. Aktivitas ekonomi yang semakin banyak, sumber daya buatan yang sudah mulai terbangun dan sumber daya manusia yang sudah dapat memanfaatkan ruang. Namun, ruang kota seperti daerah Pogung ini, masih harus banyak yang dibenahi agar dapat terlihat lebih teratur dan menjadi ruang kota yang layak huni dan ruang kota yang berkelanjutan.

Masalah-Masalah Perkotaan yang Muncul di Kawasan Kampus UGM


Salah satu masalah yang ada di sekitar Pogung adalah banyaknya warung makan di sepanjang jalan Pgung Rejo ini yang tidak tertata. Karena usaha warung makan yang ada tersebut milik individu, sehingga membuat penataan warung makan yang tersebar sangat berantakan. Hal ini membuat pemandangan yang terkesan kumuh dan padat.

Masalah lain yang juga penting adalah masalah jalan lingkungan yang terlalu sempit sehingga aktivitas transportasi menjadi padat karena sebagian besar penduduk di daerah Pogung memiliki kendaraan bermotor, bahkan sering juga terlihat kendaraan roda empat seperti mobil pribadi yang menggunakan jalan lingkungan ini.

Daerah Pogung yang memang merupakan kawasan perkampungan hanya memiliki jalan lingkungan yang dibangun dengan bahan konstruksi berupa paving block dan aspal yang tidak terlalu kuat. Beberapa ruas jalan juga ada yang dibuat dengan semen. Dengan bahan jalan yang seperti itu, jelas jalan ini sewajarnya dipakai dan dilalui oleh kendaraan roda dua dan pejalan kaki saja. Namun pada kenyataannya, jalan lingkungan Pogung dilalui oleh beberapa kendaraan bermotor termasuk mobil dan aktivitas transportasi itu berjalan terus menerus dari pagi sampai malam hari tanpa henti.

Dengan beban jalan yang begitu besar, kapasitas jalan yang dan ukuran lebar jalan serta bahan konstruksi yang tidak memadai, mengakibatkan jalan ini sering terjadi kerusakan. Jalanan Pogung sudah seperti jalanan padat kendaraan yang menjadi akses penting bagi para mahasiswa dalam melakukan aktivitasnya. 

Mahasiswa dituntut untuk memiliki mobilitas yang tinggi dalam mengerjakan tugas, belajar bersama dan kegiatan-kegiatan kampus lainnya. Maka dari itu, sebagian besar dari mahasiswa memiliki kendaraan masing-masing. Akibat dari banyaknya mahasiswa yang tinggal di daerah ini dan tingginya intensitas kegiatan adalah padatnya jalanan Pogung dan inilah faktor yang paling berpengaruh yang membuat infrastruktur jalan di Pogung menjadi sering rusak.

Infrastruktur seperti jalan sangatlah vital bagi masyarakat. Tidak seharusnya infrastruktur jalan ini rusak dan kondisinya tidak memadai karena jalan merupakan prasarana terpenting sebagai akses masyarakatnya menuju ke suatu tempat untuk melakukan aktivitasnya. Jika prasarana ini rusak dan tidak maksimal kondisinya, maka aktivitas manusianya pun akan terganggu. Butuh beberapa aturan dan regulasi dalam pembangunan dan pengelolaan infrastruktur untuk tetap menjaga infrastruktur agar masyarakatnya pun tidak dirugikan oleh pihak pemakai jalan yang notabene mahasiswa yang berasal dari daerah luar Yogyakarta.

Masalah lain berkenaan dengan fungsi jalan adalah disalahfungsikannya bagian pinggir jalan untuk lahan parkir bebas atau pedagang kaki lima (PKL). Melihat jalan lingkungan daerah pogung yang sempit, tidak seharusnyalah kendaraan bermotor terutama mobil memarkirkan kendaraannya di pinggiran jalan Pogung yang ukuran lebarnya sangat tidak memadai. Untuk dilewati dua mobil saja sudah tidak memungkinkan, apalagi harus ada parkir pinggir jalan. Ini jelas sangat mengganggu para pemakai jalan. Termasuk di dalamnya para pejalan kaki yang secara langsung menutup area mereka untuk berjalan kaki yang kemudian pada akhirnya mereka lah yang mengalah dan mencari celah sempit diantara kendaraan-kendaraan yang terparkir itu untuk tempat mereka berjalan, bahkan mungkin mereka menggunakan punggung jalan untuk tempat mereka berjalan. Perjalanan mereka jelas akan sangat terganggu dan tidak menutup kemungkinan terjadi kemacetan jika jalanan memang benar-benar sudah padat.

Tingginya aktivitas masyarakatnya di bidang ekonomi dan sosial umumnya, membuat mereka mencari jalan tengah dalam menempatkan kendaraan pribadinya dan menggunakan pinggir jalan sebagai tempat parkir kendaraan dikarenakan mungkin tempat tujuan mereka berada di pinggir jalan tersebut. Perkembangan fisik daerah Pogung yang tidak teratur dan sembarangan membuat para penyedia perdagangan dan jasa melakukan aktivitasnya di pinggir jalan.

Tidak adanya regulasi tentang mendirikan bangunan dan parkir kendaraan inilah yang sangat mengkhawatirkan para pemakai jalan ketika jalanan penuh dengan kendaraan-kendaraan yang parkir sembarangan. Sebenarnya jika para penyedia jasa dan perdagangan ini dapat mencari tempat yang lebih luas dan tidak berada persis di pinggir jalan, maka para pemakai kendaraan pribadi pun akan menempatkan kendaraan mereka di tempat yang seharusnya sudah disediakan dan tidak sembarangan. Oleh sebab itu, regulasi dan pengaturan ulang akan tata ruang di daerah Pogung khususnya Pogung Rejo ini sangatlah penting agar masalah-masalah infrastuktur seperti ini tidak lagi terjadi dan paling tidak bisa dikurangi.

Ada satu masalah yang selama ini dikeluhkan oleh para pengendara kendaraan bermotor seperti mobil dan motor, yaitu banyaknya polisi tidur yang ada di sepanjang jalan Pogung. Menurut mereka ini sangat merugikan mereka karena tingginya polisi tidur dan jumlahnya yang banyak membuat bagian bawah kendaraan mereka tergores dan lama kelamaan akan menjadi rusak. 

Di sisi lain, masyarakat sekitar membuat polisi tidur tidak tanpa maksud dan tujuan. Polisi tidur dapat memperlambat laju kendaraan agar para pengendara dapat berhati-hati dalam mengendarai kendaraannya, tidak dengan kecepatan tinggi. Ini dilakukan karena daerah Pogung masih termasuk daerah pemukiman penduduk dan banyak pejalan kaki yang melewati jalan lingkungan tersebut. Polisi tidur merupakan hal yang dirasa baik untuk menghentikan laju kendaraan bermotor di jalan lingkungan yang sempit dan padat penduduk ini agar juga tidak terjadi kecelakaan terhadap para pejalan kaki.

Maka dari itu, konsekuensi akan pemakaian jalan lingkungan ini harus juga diterima dengan bijak oleh para pengendara agar semua pemakai jalan dapat memakai jalan bersama dengan aman dan meminimalisir segala kemungkinan buruk yang terjadi seperti kecelakaan. Itulah esensi bersosialisasi secara demokratis. Menerima konsekuensi atas apa yang telah digunakannya tanpa memikirkan kepentingannya sendiri. Perilaku manusia itu dirangkaikan lahir batin dengan orang lain, serta memiliki ciri yang individual sekaligus sosial.

Dari gambaran kawasan tersebut, solusi dari permasalahan yang sering terjadi di sepanjang Selokan Mataram Pogung Rejo antara lain adalah perbaikan jalan, pelebaran jalan, pembuatan area parkir baru, dan pemetaan area warung makan.

Perbaikan jalan di sepanjang Selokan Mataram perlu segera dilakukan karena keadaannya sudah cukup parah dan mengganggu para pengguna jalan yang melintas. Perbaikan yang dilakukan bisa dengan memasang paving di sepanjang jalan atau dengan mengaspal jalan. Agar perbaikan jalan yang dilakukan bisa bertahan lama, perkerasan jalan harus diperhatikan, mengingat keadaan di sepanjang jalan Pogung begitu ramai dengan lebar jalan yang terlalu sempit. Dengan perbaikan jalan diharapkan akan memberikan kenyamanan bagi pengguna jalan. Sehingga mobilitas masyarakat di sekitar Pogung dapat berjalan lancar dan tidak terganggu.

Terlalu sempitnya jalan adalah merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi daerah di sepanjang Selokan Mataram Pogung Rejo. Untuk itu, perlu diadakannya pelebaran jalan. Namun kemungkinan hal tersebut dilakukan sangat kecil, karena terbentur masalah dalam pembebasan lahan.

Dengan banyaknya warung makan yang berada di sepanjang Selokan Mataram Pogung Rejo membuat palanggan warung makan memarkirkan kendaraannya di depan warung, sehingga memakan badan jalan yang menyebabkan lebar jalan Pogung bertambah sempit. Hal itu merupakan salah satu masalah yang menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan di sepanjang Selokan Mataram Pogung Rejo. Solusi dari permasalahan tersebut yaitu dengan pembuatan area parkir yang dibangun di atas Selokan Mataram. 

Warung makan yang terdapat di sepanjang Selokan Mataram memang belum dikelola dengan baik, sehingga manimbulkan kesan yang kumuh dan berantakan. Sehingga perlu diadakannya pemetaan warung makan untuk menciptakan area Pogung yang tertata dan tidak terkesan kumuh.

Daerah Pogung khususnya Pogung Rejo berkembang secara spontan dan tidak teratur. Perlakuan khusus seperti penataan ruang dan perbaikan infrastruktur kawasan perlu segera dilakukan untuk terciptanya daerah yang rapi dan tertata. Diharapkan dengan gagasan-gagasan diatas dapat mengurangi kemacetan yang selama ini terjadi di sepanjang jalan Selokan Mataram Pogung Rejo dan dengan dibangunnya area parkir baru diharapkan juga dapat menjadi solusi baik dalam mengurangi kepadatan yang terjadi karena lebar jalan yang terlalu sempit.

0 Response to "Masalah Perkembangan Kota dan Kawasan Sekitar Kampus UGM: Studi Kasus Pogung Rejo Yogyakarta"

Post a Comment

Berikan komentar disini...