Analisis Kemampuan Lahan Berdasaran Peraturan Lingkungan Hidup dan SK Mentan di Indonesia

Analisis kemampuan lahan berdasarkan Peraturan Lingkungan Hidup dengan SK Mentan 837/KPTS/UM/1980 terdapat beberapa perbedaan mendasar. Cara menganalisis kemampuan lahan diantara keduanya pun berbeda. 

kemampuan lahan


Analisis Kemampuan Lahan Menurut Peraturan Lingkungan Hidup


Pada Peraturan Lingkungan Hidup terdapat bermacam-macam analisis kemampuan lahan, seperti kemampuan lahan dalam tingkat kelas, kemampuan lahan dalam tingkat sub kelas, dan kemampuan lahan pada tingkat unit pengelolaan. Dalam analisis kemampuan lahan tersebut pada Peraturan Lingkungan Hidup dijelaskan lebih rinci mengenai analisis kelas lahan dan penggunaannya. Pada analisis kemampuan lahan dalam tingkat kelas, lahan dikelompokan dalam 8 kelas. Dalam tiap-tiap kelas tersebut dijelaskan secara lengkap bagaimana kriteria dan penggunaannya. Sedangkan dalam analisis kemampuan lahan dalam tingkat Sub kelas didasarkan pada jenis faktor penghambat atau ancaman dalam penggunaannya. Dalam Peraturan Lingkungan Hidup juga dijelaskan bagaimana cara penamaan kelas dan subkelasnya dengan menuliskan faktor penghambat dibelakang angka kelas. Untuk kategori kemampuan lahan pada tingkat unit pengelolaan didasarkan pada intensitas faktor penghambat dalam kategori subkelas. Dengan demikian kategori unit pengelolaan telah diidentifikasi kesamaan potensi dan hambatan atau resiko sehingga dapat dipakai untuk menentukan tipe pengelolaan atau teknik konservasi yang dibutuhkan.


Analisis Kemampuan Lahan Menurut SK Mentan


Pengelompokan dalam penentuan jenis kriteria dan kemampuan lahan pada analisis kemampuan lahan pada Peraturan Lingkungan Hidup berbeda dengan SK Mentan. Pada SK Mentan ini analisis kemampuan lahan hanya dilihat dari beberapa indikator. Indikator-indikator-indikator tersebut antara lain: lereng, tekstur dan kedalaman tanah, jumlah curah hujan dan bulan kering, dan penggunaan lahan. Kemudian pada masing-masing indikator tersebut terdapat rumus yang digunakan sebagai perhitungan skor untuk peruntukan lahan. Dari rumus tersebut, akan terlihat berapa bobot dari perhitungan skor lokasi untuk peruntukan lahan. Setelah mengetahui skor peruntukan lahan, maka akan diketahui termasuk dalam kriteria kawasan apa lahan tersebut. Kriteria kawasan pada SK Mentan dibagi menjadi 2, yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya. Pada kawasan lindung dibagi menjadi 4 kriteria, antara lain kawasan yang memberikan perlindungan kawasan dibawahnya, kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam dan cagar budaya serta kawasan rawan bencana. Sedangkan kriteria pada kawasan budidaya dikelompokkan menjadi 6 kawasan, yaitu kawasan hutan produksi, kawasan pertanian, kawasan pertambangan, kawasan perindustrian, kawasan pariwisata, dan kawasan permukiman.


Kelebihan dan Kekurangan Peraturan Lingkungan Hidup dan SK Mentan Mengenai Analisis Kemampuan Lahan


Analisis kemampuan lahan berdasarkan Peraturan Lingkungan Hidup dengan SK Mentan 837/KPTS/UM/1980 sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada Peraturan Lingkungan Hidup analisis kemampuan lahan dibedakan menjadi beberapa macam dan dijelaskan secara lengkap terperinci, sedangkan pada SK Mentan analisis kemampuan lahan dihitung melalui indikator dan memakai rumus dalam menentukan skor bobot untuk mencari peruntukan lahan secara tepat. Namun walaupun analisis kemampuan lahan diantara keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Peraturan Lingkungan Hidup mengenai analisis kemampuan lahan lebih baik daripada analisis kemampuan lahan berdasarkan SK Mentan 837/KPTS/UM/1980. Alasannya, Peraturan Lingkungan Hidup lebih baik yaitu karena dalam penentuan analisis kemampuan lahan dibedakan menjadi beberapa jenis dan dijelaskan secara jelas dan terperinci juga apa kriteria-kriterianya. Selain itu pada Peraturan Lingkungan Hidup juga dilengkapi cara penamaan kelas dan subkelas, dengan adanya penjelasan cara penamaan kelas dan subkelas tersebut membantu pembaca dalam memahami bagaimana analisis kemampuan lahan berdasarkan Peraturan Lingkungan Hidup dengan mudah. Berbeda dengan cara analisis kemampuan lahan pada SK Mentan, cara analisis kemampuan lahan pada SK Mentan walaupun analisis kemampuan lahan menggunakan rumus namun penggunaan rumus tersebut terlalu rumit, dan hanya menggunakan perkiraan seperti berapa persen derajat kemiringannya, dsb. Maka dari itu, cara analisis kemampuan lahan lahan pada SK Mentan kurang efisien dan kurang tepat. Peraturan Lingkungan Hidup lebih baik dalam penentuan kemampuan lahan karena sistem cara penentuan kemampuan lahan lebih jelas karena analisis kemampuan lahan juga dilengkapi dengan kriteria-kriteria yang pasti, selain itu pada Peraturan Lingkungan Hidup, analisis kemampuan lahan cukup lengkap dan lebih mudah dipahami.

0 Response to "Analisis Kemampuan Lahan Berdasaran Peraturan Lingkungan Hidup dan SK Mentan di Indonesia"

Post a Comment

Berikan komentar disini...