Tinjauan Kritis Perencanaan Tata Guna Lahan

Pada artikel kali ini, saya mencoba berbicara mengenai 2 studi kasus rencana tata guna lahan yang terjadi di Yogyakarta yaitu konversi lahan bekas lahan pasar kobong menjadi kawasan RTH (Ruang Terbuka Hijau), dan yang kedua mengenai pembuatan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) berbasis kelautan di Kulon Progo. Adanya dua study kasus yang berbeda tersebut dapat menjadi pembelajaran lebih dalam bagi kita mengenai rencana tata guna lahan.

Hal yang cukup menarik bagi kita pada study kasus pertama yaitu pengalihfungsian bekas lahan pasar kobong menjadi RTH. Study kasus tersebut bagi kita sangat menarik, karena dengan ditampilkannya study kasus tersebut dapat menjadi suatu pembelajaran bagi kita bahwa bekas lahan terbangun masih dapat dialih fungsikan menjadi RTH yang merupakan lahan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan mendatang. Pada penjelasan study kasus tersebut juga dijelaskan bagaimana skema perencanaannya, dari apa saja faktor yang penyebab pembukaan lahan dan pembuatan rencana, sistem pembukaan lahan hingga tujuan rencana. Sehingga kita dapat mengetahui bagaimana proses perencanaanya secara lebih detail. Berikut merupakan skema perencanaannya.

Skema Perencanaan Tata Guna Lahan

Pembelajaran


Pembelajaran yang bisa diambil dari Rencana Tata Guna Lahan secara umum ialah :

  1. Rencana Tata Guna Lahan sangat diperlukan untuk mengatur pola kehidupan dalam masyarakat
  2. Rencana Guna Lahan ialah aspek yang mendasar karena disebabkan keterbatasan lahan 
  3. Kesadaran Lingkungan sangat perlu ditekankan dalam proses perencanaan Tata Guna Lahan
  4. Segala arahan dan pola aktifitas mendapat arahan kuat dari Tata Guna Lahan
  5. Penegakan rencana Tata Guna Lahan akan mempengaruhi pola kehidupan dalam masyakarat
  6. Konflik Guna Lahan sering muncul karena kekurangan dalam hal penegakan hukum
  7. Alih fungsi Tata Guna Lahan sering kali menjadi masalah.

Jika dilihat dari Studi Kasus sebagai berikut :


  1. Pengalihan fungsi lahan memerlukan analisis yang mendalam
  2. Sosialisasi Rencana merupakan hal penting dalam Pengalihan Tata Guna Lahan
  3. Dalam Pembuatan Rencana Tata Guna Lahan maupun Alih fungsi perlu memperhatikan aspek lingkungan
  4. Dalam Alih Fungsi Lahan perlu ada peninjauan ulang pada pengajuan dan Rencana Tata Guna Lahan
  5. Aspek Ekonomi merupakan aspek yang penting dalam Rencana Guna Lahan
  6. Optimalisasi Tata Guna Lahan di dalam Rencana penting untuk konservasi
  7. Rencana Tata Guna Lahan bukan berarti terus membuka lahan – lahan baru untuk dibangun namun juga untuk mengkonservasinya
  8. Rencana Tata Guna Lahan merupakan masalah kompleks karena menyangkut masalah berbagai sektor juga kepentingan

A. Partisipasi Masyarakat Dalam Rencana Tata Guna Lahan


Rencana Tata Guna Lahan



Salah satu masalah yang diangkat ialah mengenai manajemen lahan, dimana disetiap prosesnya harus ada interaksi secara terus- menerus dan salah satu interaksi tersebut adalah dengan adanya partisipasi oleh masyarakat daerah perencanaan.

Perencanaan pada hakikatnya ialah mewujudkan keinginan dari masyarakat daerah yang akan direncanakan, sehingga pada tahap perencanaan sangat dibutuhkan partisipasi baik secara langsung dari masyarakat maupun tidak. Peran serta masyarakat secara formal tertuang pada UU No. 24 Tahun 1992 tentang penataan ruang, lalu dilanjutkan dengan Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1996 tentang pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang. Secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut :

Perencanaan Tata Guna Lahan


Rencana tata guna lahan awalnya mengalami beberapa proses perencanaan sehingga menciptakan sebuah pemanfaatan ruang yang pada akhirnya tetap harus di kendalikan (dalam hal pemanfaatan) dan dari 3 hal diatas, masyarakat merupakan faktor kunci yang akan ikut dalam 3 masa tersebut. Pada saat proses perencanaan, masyarakat harus mengetahui secara terbuka rencana tata guna lahan yang akan di implementasikan oleh pemerintah maupun pihak swasta. Lalu masyarakat berhak untuk menikmati manfaat ruang dan atau pertambahan nilai ruang yang telah direncanakan secara bersama-sama tersebut. Apabila terdapat kerugian/perubahan fisik yang melibatkan masyarakat dalam proses penataan guna lahan, maka masyarakat juga berhak untuk memperoleh pergantian yang layak atas kerugian tersebut.

Rencana Tata Guna Lahan

Keterlibatan masyarakat dalam hal perencanaan, juga harus disadari oleh Pemerintah/Swasta, dimana kedudukannya adalah sebagai berikut:

Perencanaan Tata Guna Lahan

B. Penerapan Aspek Lingkungan Di Kasus Rencana Tata Guna Lahan


Hasil dari presentasi rencana tata guna lahan ini kemudian akan dikaitkan dengan aspek lingkungan. Pada pembahasannya, akan dianalisis bagaimana penerapan aspek lingkungan yang terkandung di dalam proses rencana guna lahan yang berlangsung selama di Indonesia. Selama ini dalam pelaksanaan rencana guna lahan di Indonesia telah ditangani oleh direktorat tata guna lahan dan Badan Pertahanan Nasional (BPN) yang mempunyai cabang di berbagai tingkat daerah seperti di tingkat provinsi, kabupaten, maupun kotamadya. Di Indonesia sendiri, aktivitas pembangunan yang berlangsung terutama di kota- kota besar menyebabkan meningkatnya kebutuhan jumlah lahan dan mengakibatkan lahan yang dapat dimanfaatkan semakin terbatas. Hal ini tentu akan mendorong pada konservasi guna lahan yaitu perubahan guna lahan untuk penggunaan lain yang disebabkan oleh faktor- faktor yang meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin bertambah jumlahnya dan meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih baik. Di dalam slide telah dijelaskan faktor- faktor penyebab adanya konservasi guna lahan yaitu faktor lingkungan, pembangunan/ pengembangan, revitalisasi, serta pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi lingkungan, presentasi kelompok perencanaan tata guna lahan dengan tema “Rencana” terdapat beberapa hal yang menyangkut lingkungan dalam ruang, yaitu yang tergambar dari studi-studi kasus yang diangkat dalam presentasi ini.

Berikut ini adalah aspek-aspek lingkungan yang terkandung dalam studi kasus :

1. Studi Kasus : Bekas Lahan Pasar Kobong Jadi Kawasan RTH

  • Rencana membuat RTH bertujuan untuk penghijauan, menetralisasi limbah yang berasal dari aktivitas pedagang unggas. 
  • Rencana perubahan fungsi ruang dari pasar menjadi kawasan RTH karena Pasar Kobong tidak dilengkapi saluran pembuangan limbah dan IPAL yang baik sehingga mengakibatkan polusi di lingkungan sekitar. 
  • Hutan kota eks Pasar Kobong dilengkapi sarana prasarana, seperti lampu taman, arena bermain anak dan area jogging track. Selain dapat berfungsi sebagai penjaga keseimbangan lingkungan, dan mampu menjadi ruang publik dan area rekreasi.
  • Menambah daerah resapan air di wilayah sekitar termasuk mendukung keberadaan kolam retensi dan polder banger sehingga permasalahan rob dan banjir akan teratasi.
  • Selain itu berdasarkan faktor-faktor penyebab pembukaan lahan dan pembuatan rencana salah satunya yaitu dikarenakan penurunan kualitas lingkungan hidup setempat secara jelas berada dalam koridor aspek lingkungan.

2. Studi kasus : Pembuatan KEK Berbasis Kelautan di Kulon Progo


Aspek lingkungan dapat dilihat dari rencana yang akan dilakukan dengan menyiapkan pelabuhan ikan terbesar di DIY dan kawasan industri olahan hasil laut, berarti akan terdapat kegiatan yang berkembang di lingkungan perairan baik oleh para nelayan maupun masyarakat sekitar yang dapat berdampak pada kualitas perairan laut di daerah Kulon Progo tersebut. Maka diperlukan pula sistem pengembangan yang berkelanjutan dari kegiatan kelautan tersebut, sehingga lingkungan perairan laut dan dermaga dapat tetap terjaga secara sustainable.

3. Studi kasus : “Hentikan Pembangunan di Jakarta”

Studi kasus ini dapat berdampak pada perbaikan lingkungan di Jakarta jika rencana tersebut benar-benar dilaksanakan secara terorganisir dan terintegrasi. Rencana yang dilakukan dapat dengan menambah RTH yang selama ini masih dianggap kurang, pembangunan yang ada dapat dialihkan lebih kepada penangangan kasus-kasus klasik yang selama ini masih belum tertangani seperti sistem pengolahan limbah dan air hujan yang sering menyebabkan banjir, sampah yang menumpuk, perumahan kumuh, dan masalah-masalah lingkungan lainnya.

0 Response to "Tinjauan Kritis Perencanaan Tata Guna Lahan"

Post a Comment

Berikan komentar disini...