Teori Keruangan Kota : Definisi dan Fungsi Ruang

teori ruang kota

Pada artikel ini saya coba menjabarkan definisi ruang kota dan wilayah dari beberapa sumber yang kemudian saya pertajam menjadi satu kesimpulan.

Definisi Ruang

Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya.

Unsur-unsur ruang dapat dikategorikan menjadi ruang fisik dan ruang sosial. Ruang fisik adalah ruang yang dibatasi oleh unsur-unsur fisik yang nyata dan mempunyai karakter yang serupa dan biasanya ditandai dengan batas-batas administrasi. Sedangkan ruang sosial adalah ruang yang terbentuk oleh adanya kegiatan manusia dan ditandai dengan seberapa luas jangkauan layanan dalam ruang tersebut.

Ruang secara fisik dapat dibedakaan menjadi:

1. Ruang terbuka

Ciri-ciri ruang terbuka adalah natural atau alami, berupa daratan, perairan (sungai, laut, danau, dll), daerah hijau, dan belum terbangun.

2. Ruang Terbangun

Ciri-ciri ruang terbangun adalah ada batas-batas yang jelas, dikategorikan berdasarkan fungsi ruang, berbentuk 3 dimensi serta dapat dibedakan menjadi bangunan-bangunan kompak atau menyebar.

Fungsi Ruang


Berdasarkan Undang-Undang Panataan Ruang No.24 Tahun 1992 dan Undang-Undang Penataan Ruang No.26 Tahun 2007, fungsi ruang wilayah dapat dibedakan menjadi sebagai berikut:

1. Sebagai fungsi lindung

Kawasan ini memiliki karakteristik ruang dan sifat pemanfaatannya, yang dapat didelineasi sebagai kawasan lindung yaitu fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup, biasa dijumpai sebagai kawasan campuran budidaya terbatas (kawasan suaka alam, kawasan pantai hutan bakau, kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, taman hutan raya dan taman wisata alam)

2. Sebagai fungsi budidaya

Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Kawasan ini memiliki karakteristik ruang dan sifat pemanfaatannya, yang dapat didelineasi sebagai kawasan budidaya yaitu fungsi utama untuk budidaya, batas kawasan bisa kabur, tumpang tindih atau “bergerak” atau berpindah (kawasan permukiman, kawasan pariwisata, kawasan / peruntukan industri, kawasan pertambangan, perikanan, peternakan, dll)

Terbentuknya ruang dapat direncanakan atau planned maupun tidak direncanakan atau unplanned. Ruang yang terbentuk dengan terencana biasanya mengikuti kaidah perencanaan dan memiliki pola fisik atau sosial yang jelas atau teratur. Sedangkan ruang yang tidak direncanakan tumbuh berkembang secara spontan dan tidak ada pola fisik atau sosial yang jelas.

Difinisi ruang sendiri dapat bermacam-macam tergantung dari cara pandang atau pendekatan terhadap ruang itu sendiri. Cara pandang terhadap ruang berupa:

1. Pendekatan ekologis

Pendekatan ekologis bermula dari Pendekatan Chicago School of Urban Sociology pada tahun 1916-1940. Pendekatan ini diilhami oleh terjadinya persaingan alamiah pada masyarakat tumbuhan dan binatang serta proses inter relasi dan keseimbangan. Dalam pendekatan ini, kota atau wilayah dipandang sebagai obyek studi, dimana di dalamnya terdapat masyarakat yang kompleks dan inter relasi antara manusia dan lingkungan yang mana didalamnya terdapat proses natural atau biotis, kebutuhan tempat tinggal, proses regenerasi dan perkembangbiakan, serta kebutuhan tempat untuk makan.


2. Pendekatan ekonomi

Pendekatan ekonomis berkembang sejak tahun 1960-an. Pendekatan ini didasarkan pada nilai lahan atau land values, serta harga sewa dan biaya (rent and cost) dalam suatu guna lahan. Pendekatan ini meyakini bahwa faktor jarak atau kedekatan dalam suatu guna lahan mempengaruhi kenyamanan penghuni yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai lahan tersebut.


3. Pendekatan morfologis

Pendekatan ekologis menekankan pada bentuk-bentuk fisik dan ekspresi keruangan morfologi kota baik bentuk kompak maupun menyebar.


4. Pendekatan sistem kegiatan

Pendekatan sistem kegiatan dipelopori oleh Stuart Chapin di tahun 1965 sebagai upaya untuk memahami pola-pola perilaku manusia dalam terciptanya pola-pola keruangan. Dalam pendekatan ini menekanan analisis pada unsur-unsur utama perilaku, dinamika perilaku (ruang dan waktu).

Demikian penjelasan mengenai apa itu ruang dalam konteks perencanaan wilayah dan kota. Semoga bermanfaat :)

0 Response to "Teori Keruangan Kota : Definisi dan Fungsi Ruang"

Post a Comment

Berikan komentar disini...