Teori dan Paradigma Perencanaan

Sebelum membicarakan teori-teori perencanaan, berikut dijelaskan terlebih dulu mengenai tipologi di dalam teori-teori perencanaan. Teori di dalam perencanaan dibedakan menjadi:
  1. Theory of Planning. Teori ini menekankan pada proses perencanaan dan teori prosedural. Contoh dari teori ini adalah rational comprehensive planning.
  2. Theory in Planning. Teori ini menerangkan penggunaan teori-teori lain untuk perencanaan dan substansi teori yang membentuk teori tersebut. Contohnya land use planning dan standard-standar dalam perencanaan.
  3. Theory for Planning. Teori ini menjelaskan manfaat atau kegunaan perencanaan, misalnya advocacy, empowerment. Teori ini memiliki kecenderungan mengkritisi perencanaan yang ada.
paradigma perencanaan kota


Jenis-Jenis Paradigma Perencanaan


Berdasarkan tipologi tersebut, maka jenis-jenis perencanaan yang terbentuk dan berkembang antara lain berdasarkan paradigma perencanaan :
  1. Theosentris. Theosentris adalah suatu paham yang melahirkan suatu pemerintahan teokrasi, yang menggabungkan antara dogma-dogma agama dan kekuasaan dimana masyarakat diatur dan diperintah oleh raja-raja melalui suatu sistem yang bersifat militer, yang didampingi oleh ahli agama atau pendeta. Pada paradigma perencanaan ini, fungsi perencanaan harus menunjang kekuatan monarki, serta memberikan tekanan pada kepentingan penguasa, birokrat, militer dan penguasa keagamaan. Contoh hasil perencanaan jenis ini adalah Kota Jogja secara kosmologi, dan Hasta kosala-kosali secara mitologi.
  2. Positivism. Perencanaan jenis ini hanya percaya pada perihal yang nyata, tidak khayal, menolak metafisika dan teologi. Perencanaan harus bermanfaat dan diarahkan pada pencapaian kemajuan, pasti, jelas dan tepat, serta menuju kearah penataan dan penertiban. Pembangunan dan kemajuan ditandai oleh dominasi kerja ilmu pengetahuan modern atau ilmu-ilmu positif. Fungsi perencanaan ini adalah memastikan bahwa perencanaan memiliki kapasitas rekayasa sosial, memiliki citra pasti, memiliki cetak biru (blueprint) dari suatu badan perencanaan, program-program pasti dilaksanakan di lapangan tanpa perubahan, bersifat lebih kearah pekerjaan keteknikan (engineering), penerapan standard-standard teknis, pendekatan master plan, dan land use. Contoh hasil perencanaan jenis ini adalah landuse planning sebagai bentuk orientasi spasial dan RUTRK-RTRTK sebagai bentuk standard planning.
  3. Utopianism. Utopianism adalah suatu paham yang bertujuan mengembangkan nilai-nilai esensial kemanusiaan dan lingkungan yang telah terabaikan oleh sistem industri dan birokrasi, untuk dibawa ke suatu masa depan yang ideal (lingkungan sosial dan fisik). Fungsi perencanaan jenis ini adalah untuk mempertahankan atau mengembalikan kesinambungan searah dan lembaga-lembaga kota yang telah dihancurkan untuk kepentingan ekonomi profit, dikaitkan kembali dengan nilai-nilai lingkungan perdesaan (udara bersih, open spaces, pohon-pohon). Contoh hasil perencanaan jenis ini adalah perencanaan kota baru, garden city, dll sebagai bentuk idealisme serta utopianisme.
  4. Rasionalism. Rasionalisme adalah sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal (rasio) dan pengalaman (empiris) berfungsi meneguhkan pengetahuan yang diperoleh oleh akal. Fungsi planning disini merupakan suatu aktivitas publik, masyarakat memutuskan dan mengontrol pembangunannya sendiri dengan cara rasional. Esensi planning dalam paradigma ini adalah rasionalitas atau penerapan akal sehat, mengarah pada cara kerja ilmiah, memiliki citra pasti dan menyeluruh, program-program disusun untuk dievaluasi dan memberikan peluang bagi adanya tindakan pemecahan masalah (problem solving). Contoh hasil paradigma perencanaan jenis ini adalah Repelita atau Repelitada, Pembagain wilayah, dan SWP. Jenis perencanaan ini menganut paham-paham seperti rasional komprehensif, incrementalism, dan strategic planning.
  5. Pragmatisme. Dalam perencanaan jenis ini, perubahan bukan dituntun oleh pikiran-pikiran yang datang dari luar, melainkan oleh pengalaman empiris langsung dimana kebenaran adalah sesuatu yang membuktikan dirinya benar melalui pengalaman praktis dan muara akhir dari pragmatisme adalah manfaat. Sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan praktis, tidak memiliki kekuatan kebenaran. Paradigma ini muncul karena adanya kejenuhan - kejenuhan terhadap teori planning yang telah mapan dan sering disebut sebagai pendekatan anti teori atau anti planning. Fungsi paradigma perencanaan jenis ini menekankan pada incrementalism yang didasarkan pada market decision-making, pembangunan diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar tanpa intervensi jauh dari pemerintah, dan yang penting adalah melakukan aksi atau kegiatan nyata (getting things done). Contoh perencanaan ini adalah Kawasan Bisnis (swasta) dan Housing Estate.
  6. Fenomenologi. Paradigma perencanaan ini memberi perhatian pada perihal yang nampak, terlihat pada dirinya sendiri. Pengamatan pada yang nampak bertujuan me-nemukan “hakekat” dengan menghubungkan kesadaran subyek dengan obyek dan menolak bentuk-bentuk konformitas. Realitas itu relatif, hanya dapat dipahami melalui agregat individu. Fungsi perencanaan ini adalah ketidak percayaan pada planning yang bersifat menyeluruh dan berlaku umum (menolak "comprehensive planning" dan "positive planning") dan Planning harus berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dan diarahkan pada tindakan nyata, bukan sebagai alat penguasa dan pemilik modal. Dalam paradigma ini planning harus responsif dan mendukung terbentuknya konsensus-konsensus baru atas dasar pluralisme. Contoh hasil perencanaan jenis ini adalah advocacy dan empowerment sebagai bentuk pemihakan dan equity planning.

Sedangkan berdasarkan substansi atau sektoral atau obyek dari perencanaan, maka jenis perencanaan dibedakan menjadi:
  1. Sosial. Dalam jenis perencanaan ini dimungkinkan penggunaan dua pendekatan atau lebih misalnya social reform, atau social learning. Contoh : Keluarga Berencana, Perencanaan Kesehatan, Pengentasan Kemiskinan, dll.
  2. Ekonomi. Jenis perencanaan ini pada umumnya menggunakan pendekatan social reform – rational planning. Contohnya Repelita, Repelitada dan Business Plan.
  3. Spasial. Sama seperti perencanaan ekonomi, jenis perencanaan ini pada umumnya menggunakan pendekatan social dan rational planning. Contohnya RUTRK, RDTRK, RTRK, Perencanaan Kawasan Wisata, dll.

Di dalam perkembangannya, perencanaan menghadapi tantangan akibat kemajuan peradaban manusia serta teknologi yang begitu pesat. Tantangan perencanaan yang seperti masih saja menjadi pekerjaan rumah bagi para perencana dewasa ini antara lain:
  • Kemiskinan dan ketidakadilan sosial;
  • Globalisasi dan pasar bebas atau kapitalisme atau komisialisasi atau privatisasi
  • Demokratisasi dan Desentralisasi;
  • Pluralisme
  • Kerusakan lingkungan;
  • Konsepsi dan peran negara

1 Response to "Teori dan Paradigma Perencanaan"

Berikan komentar disini...