Sistem Perencanaan Infrastruktur Air Minum Bagian 2

Sebelum membaca bagian 2 ini, sebaiknya teman-teman membaca terlebih dahulu artikel sebelumnya yaitu : Sistem Perencanaan Infrastruktur Air Minum Bagian 1.

Kalau sudah, mari kita lanjut... :)
Di Indonesia, Sistem Perencanaan Infrastruktur Air Minum dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 2005, yang mana didalamnya dijelaskan bahwa sistem perencanaan infrastruktur air minum terdiri dari:
  1. Rencana induk
  2. Studi kelayakan
  3. Perencanaan teknis terinci

 
Berikut adalah masing-masing penjelasannya. 

1. Rencana Induk

Berupa rencana jangka panjang untuk 10 hingga 20 tahun kedepan, dan merupakan tahap awal perencanaan air minum jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan dengan mempertimbangkan keterpaduan dengan sanitasi.

Rencana induk disusun dengan memperhatikan dan terintegrasi dengan rencana pengelolaan sumberdaya air, rencana tata ruang wilayah, kebijakan stretegi pengembangan system penyediaan air minum, kondisi lingkungan, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat serta kondisi kota dan rencana pengembangannya.

Dalam Pasal 27 peraturan pemerintah tersebut, Rencana Induk Perencanaan Infrastruktur Air Minum memuat:
  1. Rencana Umum 
  2. Rencana Jaringan  
  3. Program Kegiatan Pengembangan
  4. Kriteria dan Standar Pelayanan  
  5. Rencana Alokasi Air Baku  
  6. Keterpaduan dengan Sanitasi  
  7. Indikasi Pembiayaan dan Pola Investasi  
  8. Rencana Pengembangan Kelembagaan

2. Studi Kelayakan


Studi kelayakan ini disusun berdasarkan:  
  1. Rencana induk pengembangan SPAM 
  2. Hasil studi kelayakan
  3. Jadwal pelaksanaan kontruksi
  4. Kepastiaan sumber pembiayaan

Dalam studi kelayakan, hal-hal yang termuat didalamnya antara lain:
  1. Rancangan teknis system (detail kegiatan, tahapan dan jadwal pelaksanaan) 
  2. Perhitungan dan gambar teknis
  3. Dokumen pelaksanaan kegiatan

3. Perencanaan Teknis Terinci


Dalam perencanaan teknis terinci dilakukan analisis perencanaan SPAM agar rancangan yang dihasilkan lebih akurat dan tepat guna. Analisis perencanaan SPAM dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:  
  • Analisis Kondisi Existing:
Secara teknis, yang diamati dalam kondisi yang sedang terjadi di obyek perencanaan antara lain:
  1. Performa pelayanan 
  2. Tingkat pelayanan
  3. Jangkauanbpelayanan  
  4. Performa instalasi
  5. Jumlah dan kinerja peralatan atau perlengkapan   
  6. Prosedur dan kondisi  
  7. Operasi dan perawatan
  8. Tingkat kebocoran

Sedangkan secara non teknis, kondisi dan performa keuangan menjadi obyek pengamatan yang penting.

Dalam analisis kondisi existing ini, sasaran yang ingin dihasilkan adalah rumusan permasalahan dan pengembangan dari kondisi existing komponen berikut:
  1. Tingkat dan cakupan pelayan yang ada 
  2. Performa pelayanan
  3. Tingkat kebocoran
  4. Jumlah langganan tunggu atau potensial
  5. Terdapat kapasitas yang belum dimanfaatkan (Idle Capacity)  
  6. Kebutuhan pengembangan jaringan distribusi dan atau kapasitas pengolahan  
  7. Performa kelembagaan, sumber daya manusia dankeuangan.


  • Analisis Kebutuhan Air

Yang dilakukan dalam analisis kebutuhan air adalah:  
1. Analisis kebutuhan air terhadap golongan pemakai air tersebut yaitu:
- Golongan domestik, contohnya rumah tangga
- Golongan non domestik, contohnya perkantoran, sekolah, rumah sakit, pabrik, pasar, pertokoan, hotel, bioskop, restoran, pelabuhan, terminal, stasiun, bandara, dll.

2. Menentukan standar penggunaan air yang didasarkan pada survey kebutuhan nyata (real demand survey/ RDS). Saat ini sudah ada standard penggunaan air yang digunakan di Indonesia sebagai pedoman perencanaan infrastruktur air minum yaitu sebagai berikut:
 
analisis infrastruktur air minum
Analisis Perencanaan SPAM
3. Perkiraan jumlah penggunaan air rata-rata

4. Perkiraan kehilangan air (baik saat operasional dan kebocoran) yang dapat diakibatkan oleh kegagalan meter air, keselahan pembacaan meter air, sambungan air liar, dan kebocoran pipa)

5. Perkiraan kebutuhan air hari rata-rata
infrastruktur air minum

6. Perkiraan kebutuhan hari maksimum
infrastruktur air minum
Keterangan : faktor hari maksimum = 1.15-1.20

7. Perkiraan kebutuhan puncak
infrastruktur air minum
Keterangan : faktor jam puncak = 1.65 – 2.00
Kebutuhan air tiap daerah memang sangat bervariasi, hal ini dikarenakan:
  1. Waktu (semakin singkat waktu maka variasi penggunaan air semakin besar sehingga beban puncaknya semakin besar) 
  2. Karakteristik penggunaan air (semakin homogeny jenis-jenis penggunaan air pada suatu tempat maka variasi kebutuhan air semakin besar pula)  
  3. Kondisi populasi (semakin padat penduduk maka variasi kebutuhan air semakin kecil).

0 Response to " Sistem Perencanaan Infrastruktur Air Minum Bagian 2"

Post a Comment

Berikan komentar disini...