Perencanaan Infrastruktur Pengelolaan Limbah Padat / Sampah

Melanjutkan Infrastruktur Pengelolaan Sampah dengan studi kasus Jakarta vs Bekasi, berikut adalah penjelasan mengenai perencanaan infrastruktur pengelolaan sampah atau limbah padat yang baik agar masalah yang terjadi di Jakarta dan Bekasi tidak terulang kembali.

Diawali dengan mengenai apa itu sampah. Sampah, bersumber dari beberapa asal atau timbulan sampah antara lain dari:
  1. Pemukiman
  2. Perdagangan
  3. Industri
  4. Institusi (kantor, sekolah)
  5. Rumah sakit
  6. Pertanian, peternakan, perkebunan
  7. Tempat umum (tempat rekreasi, jalan, taman)
  8. Lapangan udara, terminal dan pelabuhan
  9. Water and waste water treatment plant


Jenis-Jenis Sampah


Sampah dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:
  1. Garbage (sampah basah) yaitu sampah yang susunannya terdiri dari bahan organik, dan yang mempunyai sifat cepat membusuk jika dibiarkan dalam keadaan basah serta temperature optimum yang diperlukan untuk membusuk, yaitu (20-30) ⁰C. Contoh: sampah rumah tangga, sampah rumah makan, dll.
  2. Rubish (sampah kering) yaitu sampah yang susunannya terdiri dari bahan organik dan anorganik yang mempunyai sifat sebagian besar atau seluruh bahannya tidak cepat membusuk. Contoh sampah logam misalnya kaleng, seng, dll serta sampah non-logam seperti: kertas, plastik, kayu , pecahan kaca, dll.
  3. Dush and Ash (debu dan abu) yaitu sampah yang terdiri dari bahan organik dan anorganik, yang merupakan partikel-partikel terkecil yang bersifat mudah beterbangan yang membahayakan pernafasan dan mata. Contoh abu adalah hasil pembakaran (proses kimia) dan contoh debu adalah hasil proses mekanis.
  4. Demolition dan Construction yaitu sampah sisa-sisa bahan buangan, misalnya: puing-puing, pecahan-pecahan tembok, genteng, dll.
  5. Bulky Waste yaitu sampah barang-barang bekas, baik yang masih dapat digunakan atau yang tidak dapat digunakan. Contoh: lemari es bekas, kursi, TV, mobil rongsokan, dll.
  6. Hazardous yaitu sampah yang berbahaya (B3 : bahan buangan berbahaya). Contoh sampah patogen adalah sampah rumah sakit, laboratorium klinis serta sampah beracun contohnya: kertas pembungkus pestisida dan sampah mudah meledak: misalnya mesiu serta sampah radio aktif misalnya sampah nuklir.
  7. Water and Waste Water Treatment Plant yaitu sampah yang berupa hasil sampingan pengolahan air bersih maupun air limbah, biasanya berupa gas atau lumpur.

Lalu bagaimana agar permasalahan sampah tersebut dapat diatasi melalui perencanaan pengelolaan sampah yang baik?

Perencanaan Infrastruktur Pengelolaan Sampah atau Limbah Padat


Pertama, kita harus menganalisis sampah yang ditimbulkan di suatu kota untuk mendapatkan perkiraan sampah yang akan dikelola. Berdasarkan Cointreu, 1992, maka laju timbulan sampah yang dihasilkan dalam suatu kota dapat diukur dan diwujudkan dalam ukuran numerik sebagai berikut:

laju generasi sampah Indonesia

laju generasi sampah Indonesia


Kemudian yang kedua, kita harus menganalisis karakteristik sampah yang dihasilkan. Karakteristik sampah dilihat dari komposisi fisik dan komposisi kimia. Karakteristik sampah secara fisik dibedakan menjadi:
  1. Jenis komponen
  2. Sifat masing-masing komponen yang terdiri dari ukuran butir, dan kadar air
  3. Rapat massa

Sedangkan karakteristik kimia dibedakan menjadi:
  1. Kandungan energi
  2. Kandungan kimia seperti Carbon, Hidrogen, Oksigen, dan Belerang.

Informasi tentang karakteristik sampah diperlukan untuk:
  1. Pemilihan peralatan, sistem, program dan rencana pengelolaan, pemilihan bahan-bahan yang bisa digunakan kembali dan pemanfaatannya untuk sumber energi
  2. Analisis serta perencanaan tempat pembuangan akhir (TPA)

Yang ketiga, melakukan penilaian terhadap kondisi daerah yang direncanakan dengan analisis:
  • Fungsi dan Nilai Kawasan : apakah kawasan tersebut adalah kawasan perumahan teratur dan tidak teratur, kawasan komersial atau kawasan perdagangan, kawasan indstri, perkantoran, pendidikan, dan kondisi jalan protokol, taman-taman kota dan hutan kota.
  • Kepadatan Penduduk : apakah berkepadatan rendah (<100 jiwa/Ha), kepadatan sedang (100-300 jiwa/Ha), kepadatan tinggi (>300 jiwa/Ha)
  • Kondisi Lingkungan : penilaian terhadap kondisi eksisting terhadap pengelolaan sampah.
  1. Baik, bila sampah dikelola dan lingkungan menjadi bersih
  2. Sedang, bila sampah dikelola tapi lingkungan masih kotor
  3. Buruk, bila sampah tidak dikelola dan lingkungan masih kotor
  4. Buruk sekali, bila sampah tidak dikelola dan lingkungan sangat kotor
  • Daerah Pelayanan : melihat kondisi pelayanan sampah eksisting di daerah sekitar
  1. Daerah yang sudah dilayani
  2. Daerah yang dekat dengan yang sudah dilayani
  3. Daerah yang jauh dari daerah layanan
  • Tingkat Pendapatan Penduduk (rendah, sedang atau tinggi)
  • Tipografi (datar, bergelombang atau berbukit)

Yang keempat, menentukan tingkat pelayanan yang akan diberikan, antara lain dengan menetukan:
  • Strategi Pelayanan
  • Frekuensi Pelayanan
  1. Wilayah dengan pelayanan intensif: pusat kota, jalan protokol, taman / hutan kota, kawasan pemukiman tidak teratur, dan pusat perdagangan termasuk pasar
  2. Wilayah dengan pelayanan menengah: wilayah pemukiman teratur, komplek pendidikan / perkantoran, komplek kesehatan dan industri
  3. Wilayah dengan pelayanan rendah yaitu wilayah pinggir kota
  • Kualitas Operasional
  1. Penggunaan jenis peralatan
  2. Sampah yang terisolasi dari lingkungan 
  3. Frekuensi pelayanan
  4. Frekuensi penyapuan jalan
  5. Estetika
  6. Tipe kota
  7. Variasi daerah pelayanan
  8. Pendapatan dari retribusi sampah
  9. Timbunan sampah musiman

Yang kelima adalah menghitung kebutuhan biaya / pendanaan antara lain dengan memperhitungkan:
  1. Biaya investasi (pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, pengolahan, pembuangan akhir)
  2. Biaya depresiasi
  3. Biaya operasional
  4. Biaya pemeliharaan
  5. Biaya pengembangan (termasuk pengembangan institusi)

Yang keenam adalah merencanakan kebutuhan peralatan untuk pengelolaan sampah atau limbah padat yaitu:
  • Peralatan sub-sistem pewadahan, seperti: bak sampah dari beton, ada yang dari tong yang terbuat dari seng, plastik, dll atau ada yang menggunakan container. Jenis pewadahan sampah tersebut bergantung pada kondisi perekonomian masyarakat setempat.
  • Peralatan sub-sistem pengumpulan
  1. Pengumpulan individual tidak langsung, maksudnya adalah kendaraan pengumpul (gerobak) mengambil timbulan sampah langsung dari pengguna jasa, misalnya: rumah tangga. Kemudian diangkut ke transfer depo (stasiun pemindahan) lalu dibawa oleh kendaraan pengangkut (truk) untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Biasanya pengumpulan ini digunakan apabila kendaraan pengangkut tidak dapat mengambil secara langsung ke pengguna jasa.
  2. Pengumpulan individual langsung, maksudnya adalah kendaraan pengangkut (truk) langsungmengambil timbulan sampah dari pengguna jasa untuk kemudian dibuang ke TPA.
  3. Pengumpulan komunal langsung, maksudnya pengguna jasa mengumpulkan sampah secara komunal pada wadah komunal untuk dibawa oleh kendaraan pengumpul, kemudian dibawa ke transfer depo, lalu diangkut oleh kendaraan pengangkut untuk dibuang ke TPA. Sama seperti No 1 dimana kendaraan pengangkut tidak dapat mengambil secara langsung ke pengguna jasa.
  4. Menggunakan Container. Container adalah wadah yang dipakai sebagai tempat timbunan sampah, dimana penggunaannya bisa dilakukan secara individual atau secara bersama-sama (komunal).
  • Peralatan sub-sistem pemindahan atau pengangkutan
Pada sub sistem ini,stasiun pemindahan (transfer depo atau transfer station), dimana fungsinya secara umum adalah sebagai tempat penampungan sementara (TPS) dan tempat bertemunya kendaraan pengumpul dengan kendaraan pengangkut.

  • Peralatan sub-sistem pemilahan dan pengolahan
Pemilahan dilakukan untuk menggolongkan jenis-jenis sampah sesuai dengan karakteristiknya, sehingga ketika masuk pada pengolahan. Menggunakan tenaga manusia (pemulung) atau menggunakan teknologi untuk mempermudah prosesnya.

Pengolahan sampah dapat dilakukan dengan 3R (recycling, reuse, recovery).
  1. Recycling adalah suatu proses pengolahan yang dilakukan dengan mengubah bentuk material sampah secara fisik dengan memproses kembali menjadi barang-barang yang berguna atau bermanfaat, misalnya mengubah sampah plastik menjadi kursi plastik, ember plastik, dll.
  2. Reuse maksudnya adalah mengembalikan sampah (rongsok) menjadi barang berguna yang mempunyai manfaat yang sama seperti aslinya tanpa merubah identitasnya. Contohnya mengubah mobil rongsokan menjadi baru.
  3. Recovery maksudnya adalah penggunaan sampah sebagai bahan bakar atau memanfaatkan energi yang tersimpan dalam sampah misalnya untuk tenaga listrik. Contohnya mengubah sampah kotoran hewan menjadi biogas.

  • Peralatan sub-sistem pembuangan akhir
  1. Open Dumping adalah TPA, dimana sampah yang dibuang diletakkan begitu saja di atas tanah kosong, atau sebelum digunakan tanah tersebut dibuat lubang dengan menggunakan traktor.
  2. Control Land Fill adalah TPA, dimana sampah yang dibuang diletakkan diatas lubang yang dibuat dengan traktor, kemudian apabila lubang tersebut sudah penuh baru ditutup dengan lapisan tanah setebal kurang lebih 20 cm.
  3. Sanitary Land Fill adalah TPA, dimana sampah yang dibuang diletakkan diatas lubang yang dibuat dengan traktor, kemudian sampah yang ada ditutup lapisan tanah yang penutupnya dilakukan setiap hari sehinggga membentuk sel-sel didalamnya.

1 Response to "Perencanaan Infrastruktur Pengelolaan Limbah Padat / Sampah"

  1. artikelnya sangat bermanfaat, informasi yang disampaikan sangat jelas dan mudah di pahami. kebutulan kami pun membahas  Instalasi Pengolahan Air Limbah dan merupkan Konsultan Ipal . kunjungin web kami disini

    ReplyDelete

Berikan komentar disini...