Metode Pemantauan dan Evaluasi Hasil Kebijakan Pembangunan

Pemantauan (Monitoring) dan evaluasi terhadap suatu kebijakan atau program pembangunan adalah penting. Dalam proses analisis kebijakan, tahap ini berfungsi sebagai upaya untuk meningkatkan performa sebuah kebijakan atau program, sehingga kebijakan tersebut dapat memberikan perubahan yang positif atau solusi terhadap masyarakat sasaran (grup target). Adapun posisi nya dalam proses analisis kebijakan dapat menjadi suatu tahap akhir atau dapat dilakukan pada awal sebelum kebijakan dijalankan. 

Dalam buku Patton dan Sawicky diuraikan 6 bentuk pendekatan evaluasi dasar yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan implementasi program, antara lain:
  1. Before and after comparisons
  2. With and without comparisons
  3. Actual-versus-planned performance comparisons
  4. Experimental (controlled) models
  5. Quasi-experimental models
  6. Cost-oriented approaches


Before and after comparisons

merupakan pendekatan yang membandingkan kondisi (orang atau penduduk suatu daerah) sebelum dan sesudah program (actual postprogram data) terhadap grup target. Selain itu, pendekatan ini juga dapat digunakan untuk membandingkan kondisi masyarakat sesudah program dijalankan (actual postprogram data) dengan masyarakat yang tidak menjalankan program atau kebijakan tersebut.

With and without comparisson

merupakan pendekatan untuk membandingkan antara grup target yang menerima program dan yang tidak. Adapun batasan-batasan antara pendekatan ini dan pendekatan pada nomor satu diatas adalah perlunya pemilihan kelompok yang akan dibandingkan dengan tepat, adanya asumsi bahwa perubahan-perubahan yang diamati di tempat kejadian perkara dapat dikenali ( Patton dan Sawicky dalam Sangidu).

metode evaluasi pembangunan
Perbedaan Bentuk Analisis before-after evaluation dan with and without comparison

Adapun kebutuhan data digunakan dalam evaluasi kebijakan tergantung pada kriteria-kriteria evaluasi dan jenis analisis yang digunakan. Namun berikut merupakan beberapa sumber data yang dapat digunakan :
  1. Catatan pemerintah,lembaga, atau catatan keuangan
  2. Dokumen-dokumen (laporan notulen, koran, transkrip)
  3. Umpan balik dari klien program
  4. Catatan-catatan harian dari staff dan para user
  5. Observasi dan pengukuran-pengukuran lainnya
  6. Bukti-bukti fisik seperti pakaian dan sobekan
  7. Penilaian oleh staff, ahli, dan teman-teman sebaya
  8. Interview
  9. Kuesioner
  10. Uji beberapa varietas
Berikut merupakan prinsip-prinsip metode cepat dalam evaluasi ex-post:
  1. Fokus evaluasi : misal memperbaiki kinerja program
  2. Data yang akan di produksi : tidak semua data/ informasi dapat diproduksi, pilihan yang diinginkan klien
  3. Perubahan yang diukur : misal berdasarkan ketercapaian tujuan atau dengan variabel-variabel tertentu
  4. Tindakan atau kebijakan atau intervensi yang akan dievaluasi : misal apa yang telah diubah
  5. Pilihan metode pengukuran dan desain evaluasi : misal before-after comparison dan with and without comparison sehingga dapat merespon modifikasi-modifikasi program
  6. Desain evaluasi yang sedang berjalan
  7. Melibatkan staf program dalam evaluasi
  8. Mengenali politik dalam evaluasi : misal mewaspadai pertimbangan-pertimbangan politik yang sering mengesampingkan obyektifitas.

Actual-versus-planned performance comparison

Pendekatan ini membandingkan data pasca pelaksanaan program secara aktual pada sasaran program yang timbul pada periode waktu sebelumnya (biasanya sebelum impelementasi program). 

Tahapan melakukaan analisis : 
Analis menentukan tujuan dan target yang spesifik untuk membuat kriteria evaluasi sebelum program dilaksanakan guna mengetahui periode waktu pelaksanaan program dan menentukan data yang dibutuhakan dari performa program yang dilaksanakan analis dalam hal ini membandingkan performa kebijakan secara actual terhadap kondisi masyarakat yang tidak menerima program.

Experimental (controlled) models

Pendekatan ini menggunakan konsep kontrol ekuivalen dan kelompok yang diuji cobakan serta ukuran-ukuran pra dan pasca pelaksanaan program. Unit analisis adalah individu dalam kelompok yang dipilih secara acak. Individu yang dimaksud adalah yang menerima atau melaksanakan program dan tidak atau melaksanakan program yang berbeda dengan kelompok yang dijadikan kelompok uji coba. 

Dalam melakukan pendekatan ini, evaluator program mengidentifikasi tujuan program dan mencocokkan kriteria evaluasi melalui tahapan sebagai berikut :
  1. Memilih kelompok masyarakat yang akan diujicobakan program dan kelompok masyarakat yang dijadikan sebagai kontrol. Pemilihan dilakukan dengan acak atau sampling. Selanjutnya dalah mengukur status atau kondisi sebelum program dari setiap kelompok masyarakat yang dipilih dengan menggunakan kriteria evaluasi yang telah ditentukan.
  2. Menjalankan program terhadap kelompok masyarakat ujicoba. Melakukan pemantauan pelaksanaan program untuk mencegah faktor-faktor luar yang dapat merubah dampak program yang diinginkan. Kemudian membuat penyesuaian pada program untuk mengeliminasi atau mengurangi pengaruh diluar program.
  3. Mengukur kondisi masyarakat yang menjadi target program dan kelompok masyarakat yang menjadi kontrol setelah pelaksanaan program, apakah terdapat perubahan terhadap dampaknya. Hasil pembandingan tersebut kemudian di sejajarkan dengan kondisi kedua masyarakat dengan kondisi pra pelaksanaan program. Jika terdapat perubahan kondisi pada grup target tidak pada grup kontrol  dan setelah dilakukan analisis secara saksama tidak terdapat faktor diluar program yang menyebabkan perubahan terhadap program, maka dapat dikatakan program berhasil.
  4. Kelemahan pendekatan ini adalah pada tahap penilaian awal yakni faktor eksternal berupa peningkatan sensitivitas subjektif (subject’s sensitivity) terhadap program. Hal tersebut adalah adanya kecenderungan dari grup target untuk lebih dapat menerima program, dalam artian tidak mencerminkan respon sebenarnya dari masyarakat terhadap program.

Quasi-experimental models

Pendekatan Quasi-experimental models mencoba mengukur hasil atau outcome dari program atau kebijakan melalui skor, angka atau indikator lainnya. Selain itu pendekatan ini juga mencoba untuk mempertahankan logika percobaan tanpa menggunakan suatu prosedur ,teknik ataupun hal lainnya. Pendekatan ini memiliki 2 rancangan dasar yang dapat digunakan untuk melakukan analisis hasil pelaksanaan program terhadap target grup, yaitu rancangan non equivalent control group dan rancangan interrupted time-series design .

Rancangan non equivalent control group melakukan perbandingan dari treatment group dan dan grup lainnya yang diujicobakan program, baik sebelum dan sesudah kebijakan atau program dilaksanakan. Adapun beberapa keuntungannya antara lain :
  1. Rancangan yang pertama membolehkan kita untuk memfokuskan penjelasan terhadap perkembangan program pada grup target dari sekian banyak perubahan yang diamati
  2. Penggunaan control group membantu kita menentukan apakah perubahan yang terjadi pada grup target dihasilkan dari kebijakan atau program ataukah disebabkan oleh faktor eksternal.
Adapun rancangan yang kedua melakukan perbandingan treatment grup dari waktu ke waktu baik sebelum dan sesudah program dilaksanakan. Misalnya kondisi kelompok masyarakat sebelum pelaksanaan program diamati beberapa kali.

Kelemahan yang terjadi di lapangan adalah data time series tidak selalu tersedia dan merekam perkembangan masyarakat secara detail atau halus, data time series tentang kondisi masyarakat mungkin dipengaruhi oleh tren musiman sehingga berpotensi ada kesalahan interpretasi.

Cost-oriented approaches

Pendekatan Cost-oriented approaches merupakan jawaban atas kondisi yang mengharuskan mengukur dampak kebijakan dalam satuan uang, estimasi biaya dan keuntungan bersih dari perubahan yang terdeteksi dari pelaksanaan program, mengukur keuntungan yang terlihat maupun tidak serta biaya yang harus dikeluarkan baik secara langsung atau uang, maupun tidak langsung (dampak buruk yang akan dirasakan kedepannya).

Ada 2 tipe utama dalam pendekatan ini, yakni:
  1. Analisis keuntungan biaya (cost benefit analysis) : membandingkan outcome terhadap input dan dinyatakan dalam nilai uang. Seperti pengembalian investasi, nilai bersih dari pengeluaran dan keuntungan pelaksanaan program, dan keuntungan terhadap rasio pengeluaran.
  2. Analisa keefektifan biaya (cost-effectiveness analysis) : mengidentifikasi upaya pencapaian tujuan program atau kebijakan dengan biaya seminimal mungkin. Melalui analisis ini berbagai cara yang berbeda diukur berdasarkan biaya yang dihabiskan untuk melakukan cara tersebut dalam mencapai tujuan program.

0 Response to "Metode Pemantauan dan Evaluasi Hasil Kebijakan Pembangunan"

Post a Comment

Berikan komentar disini...