Teori Perencanaan Strategis

Secara umum, keragaman corak perencanaan yang ada dalam praktek saat ini, yaitu:
  • Perencanaan komprehensif (comprehensive planning
  • Perencanaan induk (master planning
  • Perencanaan strategis (strategic planning
  • Perencanaan ekuiti (equity planning
  • Perencanaan advokasi (advocacy planning
  • Perencanaan inkrimental (incremental planning
Perencanaan strategis bermula dari perkembangan Rational Comprehensive Planning (RCP) yang populer di tahun 1945. RCP mengalami jatuh bangun dan perkembangan pada masanya. Implemantasi RCP untuk perencanaan pembangunan di Indonesia tertuang dalam Repelita dan saat ini berkembang menjadi strategic planning dalam bentuk RPJM. Berikut bagan perkembangan RCP di dunia:
bagan perkembangan RCP di dunia



Perubahan tersebut disebabkan oleh paradigma perencanaan yang terjadi pada elit politik terhadap perkembangan zaman yang menyebabkan paradigma RCP sudah tidak mampu lagi mengakomodasi tuntutan pembangunan negara dan tuntutan atau kritik terhadap RCP. Oleh sebab itu muncul beberapa jenis proses perencanaan antara lain : incremental planning, strategic planning, dll.

Perencanaan strategis itu sendiri adalah proses penentuan strategi atau arahan sekaligus pengambilan keputusan dalam alokasi sumberdaya. Pendekatan strategis memfokuskan secara efisien pada tujuan yang spesifik, dengan meniru cara perusahaan swasta yang diterapkan pada gaya perencanaan publik, tanpa menswastakan kepemilikan publik. Perencanaan strategis tidak mengenal standar baku, dan prosesnya mempunyai variasi yang tidak terbatas. Tiap penerapan perlu merancang variasinya sendiri sesuai kebutuhan, situasi dan kondisi setempat maka banyak sekali terdapat versi perencanaan strategis.

Secara umum proses perencanaan strategis memuat unsur-unsur:

(1) Perumusan visi dan misi
(2) Pengkajian lingkungan eksternal
(3) Pengkajian lingkungan internal
(4) Perumusan isu-isu strategis
(5) Penyusunan strategi pengembangan (yang dapat ditambah dengan tujuan dan sasaran). 

Proses perencanaan strategis tidak bersifat sekuensial penuh, tapi dapat dimulai dari salah satu dari langkah ke (1), (2), atau (3). Ketiga langkah tersebut saling mengisi. Setelah ketiga langkah pertama ini selesai, barulah dilakukan langkah ke (4), yang disusul dengan langkah ke (5). Setelah rencana strategis (renstra) selesai disusun, maka diimplementasikan dengan terlebih dahulu dengan menyusun rencana-rencana kerja (aksi/tindakan). Suatu rencana kerja dapat berupa rencana zoning seperti diterapkan pada perencanaan strategis pengelolaan wilayah pesisir dan kelautan yang dikembangkan dalam proyek Marine Resource Evaluation and Planning (MREP) di Depdagri Indonesia.

Sifat-sifat perencanaan strategis antara lain:
  • Lebih berorientasi pada tindakan (action) 
Perencanaan strategis lebih luwes sehingga memungkinkan pengelola pengembangan kota untuk selalu berpikir dan bertindak strategis menghadapi perubahan-perubahan yang drastis. Visi yang membimbing perencanaan strategis mencakup pula para pemeran (aktor) pembangunan disamping juga program kegiatan (tindakan) dan ruang (tempat).
  • Lebih menampung partisipasi masyarakat yang lebih luas
Sifat partisipatif ini menjadikan para perencana yang progresif dan membela masyarakat menekankan kebutuhan untuk membawa orang-orang warga masyarakat ke proses perencanaan, yang orang-orang tersebut, karena rancangannya atau pada prakteknya, tidak pernah berpartisipasi. Para penulis ini yakin bahwa partisipasi yang lebih luas akan menghasilkan rencana yang lebih menghayati dan responsif.
  • Lebih mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan serta peluang dan tantangan yang ada
Pertimbangan kekuatan dan kelemahan mendorong organisasi untuk melihat di luar dirinya dalam ruang maupun waktu. Dalam konteks kajian lingkungan, organisasi / perencana dapat mengukur kekuatan dan kelemahan yang relatif terhadap peluang dan ancaman karena peluang dan ancaman merupakan faktor eksternal dan bersifat harus diterima apa adanya (given) dan secara esensial tidak dapat diubah.
  • Lebih menaruh perhatian pada kompetisi kepentingan yang terjadi di masyarakat perkotaan
Kompetisi dalam perencanaan strategis dipandang sebagai bagian yang tak terelakkan, maka masyarakat diminta untuk mengidentifikasikan persaingan dan melakukan antisipasi terhadap ancaman tersebut atau harus menerima konsekuensi akibat mengabaikan persaingan tersebut. Hal tersebut mendorong para perencana juga menyadari adanya persaingan antar-daerah, antar negara, terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja dan lokasi investasi industri dalam menyusun rencana.
Proses perencanaan strategis
Proses Perencanaan Strategis

Perencanaan strategis memang lebih mewadahi partisipasi masyarakat dalam proses perencanaannya, sehingga memang mampu mewadahi aspirasi partai atau golongan/ kelompok yang memperjuangkan demokrasi. Oleh karenanya perencanaan strategis seringkali mempunyai banyak versi dan tidak mempunyai versi baku.

Beberapa hal-hal yang perlu dalam memulai proses perencanaan strategis yang efektif antara lain:

  • Paling sedikit punya satu sponsor yaitu stakeholder yang mempunyai posisi atau wewenang untuk melegitimasi proses perencanaan tersebut. 
  • Paling sedikit satu pendukung kuat untuk mendorong proses agar berjalan terus. 
  • Sebuah tim perencanaan strategis. 
  • Kesadaran bahwa proses mungkin akan mendapat hambatan atau keterlambatan. 
  • Sikap yang fleksibel (luwes) tentang suatu rencana strategis itu. 
  • Kemampuan untuk menggalang informasi dan orang-orang pada waktu-waktu tertentu untuk berpartisipasi dalam diskusi dan pengambilan keputusan penting. 
  • Keinginan untuk membangun/ menyusun dan mempertimbangkan perbedaan-perbedaan kriteria evaluasi (meskipun sangat berbeda).

0 Response to "Teori Perencanaan Strategis"

Post a Comment

Berikan komentar disini...