Perkampungan Gondolayu Lor (Kali Code) Kecamatan Jetis Kota Yogyakarta

Gondolayu LOR
Kali Code


1. Latar Belakang

Kawasan Permukiman Code adalah sebuah kawasan yang terletak di sebelah utara Jembatan Gondolayu atau sering juga disebut sebagai perkampungan Gondolayu Lor. Permukiman ini berada di pinggiran kali Code. Kali Code adalah sebuah nama sungai yang terletak di kawasan kota Yogyakarta yang tidak asing lagi bagi masyarakat Yogyakarta tentunya. Disepanjang sungai tersebut banyak sekali terdapat permukiman penduduk yang sangat padat. Pada penelitian kali ini kawasan Permukiman kali Codelah yang akan menjadi obyek penelitian. Di lokasi tersebut dapat dilakukan pengamatan terhadap komponen komponen lingkungan, seperti : transportasi, air bersih, sanitasi, drainase, limbah, sampah, udara, tata hijau, jalan, trotoar, dan lain lain.

2. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
  • Untuk mengetahui kondisi fisik kawasan permukiman Code khususnya Kampung Gondolayu Lor. 
  • Mengetahui permasalahan lingkungan yang ada di daerah permukiman sepanjang Kali Code. 
  • Mengetahui faktor apa saja yang dapat menyebabkan timbulnya masalah di permukiman kali Code tersebut 
  • Dapat memberikan solusi atau pemecahan untuk menghadapi masalah-masalah tersebut. 

3. Sasaran Pembahasan

Sasaran dari pembahasan ini adalah tata ruang perkampungan Gondolayu Lor Kali Code di Yogyakarta. Selain dilihat secara fisik, pemukiman padat juga dilihat dari segi infrastruktur dan kehidupan masyarakatnya akibat tata ruang pemukiman padat tersebut.

4. Lingkup Pencemaran

Tata ruang perkampungan Gondolayu Lor Kali Code di Yogyakarta.
Waktu Penelitian : Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2009 sampai dengan bulan Desember 2009
Tempat Penelitian : Penelitian ini dilaksanakan di rumah pemukiman perkampungan Gondolayu Lor Kali Code di Yogyakarta.



5. Pelaksanaan Penelitian

Secara umum pelaksanaan penelitian dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

  • Persiapan, dilakukan dengan menyediakan alat penelitian berupa perangkat lunak dan perangkat keras penunjang penelitian serta perijinan untuk perolehan bahan utama dan data pendukung. 
  • Pengumpulan Data, dilakukan dengan cara mendatangi kawasan yang terkait untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian. 
  • Pengolahan Data, pengolahan data diawali dengan pengolahan data hasil penetian wilayah yang kemudian dilengkapi oleh data dari perangkat lunak untuk memperoleh gambaran umum kawasan secara luas dan lebih spasial.' 
  • Analisis Hasil Penelitian, dilakukan dengan mengumpulkan hasil penelitian dan dianalisis permasalahan yang ada untuk mendapatkan solusi yang baik guna meminimalkan konversi lahan besar-besaran untuk perumahan serta masalah-masalah permukiman padat.


6. Metode Penelitian

Metode yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah Pengumpulan Data Lapangan berupa:
  • Site Reconnaissance
Yaitu sebuah metode yang dilakukan dengan pengamatan langsung (survey lapangan) kawasan yang menjadi objek penelitian. Metode ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum kawasan dan masalah yang ada didalamnya. Sehingga para peneliti mendapatkan data kualitatif. Metode ini memberikan gambaran yang lebih luas dan terintegrasi.
  • Metode Field Interviews
Yaitu metode yang dilakukan dengan wawancara. Selain itu peneliti juga melakukan kuesioner dengan pertanyaan terstruktur yang disusun sebelumnya maupun pertanyaan terbuka. Metode ini mengandalkan kemampuan pewawancara menjalin hubungan harmonis’ dengan yang diwawancara. Selain itu peneliti juga harus memahami pertanyaan dengan baik dan sabar.

KONDISI FISIK KAWASAN

1. Kondisi Umum

Perkampungan Gondolayu Lor terletak di kelurahan Cokrodiningratan kecamatan Jetis Kota Yogyakarta. Kawasan ini berada di daerah pinggiran Kali Code. Karena berada di daerah bantaran sungai, pola permukiman yang terbentuk adalah permukiman padat dan sederhana. Walaupun demikian, perkampungan ini memiliki infrastruktur yang cukup lengkap, seperti jalan sebagai prasarana transportasi, bangunan yang layak huni, MCK umum, pos siskambling, penerangan, sarana kebersihan, dll

2. Kondisi Jalan

Gambaran Umum Jalan
Jalan di perkampungan ini berukuran kurang lebih 1-2 meter, berupa gang-gang kecil yang menghubungkan antar bangunan. Jalan ini belum berupa aspal melainkan dibangun dengan paving blok. Meskipun demikian kondisi jalan bersih karena warga rajin membersihkan lingkungannya.


Karakteristik Fisik Jalan

a. Morfologi
Jalan-jalan di perkampungan ini berada di ketinggian sekitar 100 meter dari permukaan laut dan terbilang sangat sempit hingga hanya dapat digunakan para pejalan kaki dan pengemudi sepeda motor. Bentang jalannya mengikuti alur permukiman warga sebagai penghubung antar bangunan.

b. Tekstur
Tekstur jalan di kawasan perkampungan ini tidak rata dan bergelombang karena dibangun dengan paving blok yang mengikuti ketinggian lahan yang memang tidak merata. Dibangun dengan sederhana tanpa infrastruktur jalan lainnya seperti pedestrian.

c. Tata Guna Jalan
Jalan-jalan di perkampungan ini digunakan sebagai prasarana transportasi. Namun selain itu, jalan-jalan disini juga sekaligus sebagai pekarangan rumah warga. Karena tanah yang terbatas, jalan disini menjadi multifungsi untuk kegiatan lain, seperti tempat reklame, papan pengumuman, parkir, dll.

3. Bangunan

Gambaran Umum Bangunan
Bangunan yang ada di perkampungan ini mayoritas adalah bangunan sederhana. Kawasan ini termasuk kawasan padat bangunan terutama perumahan. Bahkan jarak antar bangunan belum memenuhi standar karena bangunannya saling berhimpitan. Karena itu kawasan ini terlihat sebagai kawasan permukiman padat dengan bangunan yang tidak tertata.

Karakteristik Fisik Bangunan
a. Tekstur
Kondisi bangunan di perkampungan ini adalah bangunan permanen maupun bangunan semi permanen. Dibangun menggunakan batu bata dan sebagian lainnya dari kayu. Di daerah ini ada beberapa bangunan bertingkat walaupun sederhana dan tanpa konstruksi bangunan yang baik. Hali ini mungkin disebabkan karena lahan yang terbatas.

b. Arsitektural
Dari segi arsitektur, bangunan-bangunan yang ada di perkampungan ini masih sederhana dan tidak mementingkan segi arsitektur. Umumnya hanya dibuat sebagai bangunan yang cukup layak huni.

4. Kondisi Infrastruktur

MCK Umum
Untuk kepentingan mandi, cuci, kakus, di perkampungan ini telah membangun SANIMAS berupa WC umum, bak mandi, dan tempat penampungan air bersih. Kondisinya bagus, dibangun dengan keramik, modern, dan bersih. SANIMAS ini diresmikan pada 4 Juni 2008 oleh Walikota Kota Yogyakarta.

Pos Siskambling
Pos siskambling dibangun di perkampungan ini untuk menunjang keamanan. System yang digunakan adalah sistem ronda malam dengan jadwal penggiliran warga yang bertugas.
Kondisi pos siskamblingnya bagus dan memadai berupa gardu.

Sanitasi
Saluran-saluran air bersih di perkampungan ini sudah menggunakan jaringan pipa untuk menyalurkan ke seluruh warganya. Saluran pembuangan limbahnya berupa pipa-pipa jaringan. Namun sayangnya, dibeberapa RT yang memang berbatasan langsung dengan sungai code, pembuangan akhir limbah cair masih ke Sungai Code. Hal ini mengakibatkan percemaran air di Sungai Code dan kerusakan fungsi Sungai Code sebagai penjaga keseimbangan lingkungan terutama ekosistem perairan.


5. Ruang publik

Parkampungan ini sebenarnya tidak mempunyai lahan kosong lagi yang dapat dijadikan taman atau sejenisnya sebagai tempat bersantai di sore hari. Mereka hanya memiliki mesjid dan satu lapangan olahraga yang dapat digunakan sebagai tempat berkumpul. Akan tetapi terbatasnya ruang di kampung ini tidak membatasi interaksi mereka. Suasana kekeluargaan terlihat di beberapa pekarangan rumah yang memang terdapat kursi tempat bersantai. Selain itu, kamar mandi umum yang mereka punya juga dapat menambah eratnya tali silaturrahmi antar penduduk kampung. Jadi pada dasarnya fungsi ruang public sebagai tempat berkumpul sudah tergantikandi perkampungan ini.


6. Tempat Pembuangan Sampah

Gondolayu Lor terdiri atas beberapa Rukun Tetangga (RT) dalam Rukun Warga(RW) yang sama. Lahan tersebut kurang lebih dihuni oleh 200 keluarga. Bukanlah jumlah yang sedikit untuk menghasilkan sampah dan limbah dalam jumlah besar. Dan salah satu masalah perkotaan yang bahkan Negara-negara maju pun masih alami adalah masalah pengelolaan sampah dan limbah tersebut. Di beberapa Rukun warga kawasan perkampungan gondolayu lor, mereka mengatasi masalah sampah penduduk dengan memperkerjakan beberapa orang pekerja yang memang bertugas dalam mengangkut sampah sampah tersebut dari rumah rumah penduduk. Tenaga kerja ini diberi upah tiap bulannya berkisar empat ratus ribu rupiah tergantung dengan letak dan posisi rukun tetangga mereka sendiri. Jadi penduduk hanya tinggal meletakkan sampah di tempat tempat tertentu, pada pagi hari, yang disediakan didepan rumah mereka untuk kemudian diangkut ke tempat penampungan sampah akhir oleh pekerja yang telah ditentukan Hal ini dibiayai oleh kas RT itu sendiri yang berasal dari pungutan setiap warga di kawasan tersebut. Untuk pengolahan sampah-sampah padat itu sendiri di tempat pembuangan akhir, mereka menyumbang masing masing RT sejumlah seratus ribu rupiah. Hal ini merupakan sesuatu yang baik dimana mereka terbantu dalam mengurusi sampah sekaligus membuka suatu lapangan pekerjaan baru bagi orang lain.

7. Lahan Terbuka Hijau

Kampung ini yang terbilang cukup sejuk dengan banyak tanaman di pekarangan rumah rumah penduduk yang memang minim lahan kosong tersebut. Meskipun padat, dikampung ini tetap kita temukan kesan hijau dari bunga dan tanamaan lain di pekarangan. Memang pada dasarnya mereka tidak punya cukup lahan untuk ditanami pohon pohon pelindung berukuran besar. Akan tetapi, untuk mencegah polusi, panas, dan mendapatkan udara yang segar, mereka sudah dapat menciptakan keadaan ini sedemikian rupa.

Hal ini pada dasarnya berawal dari kebijakan pemerintah daerah setempat yang mewajibkan tiap tiap rumah menanam bunga dan tanaman lain didepan rumahnya. Bahkan demi tercapainya tujuan tersebut, pemerintah mengadakan bantuan pengadaan pot dan tanaman kepada tiap-tiap kepala keluarga. Pada awal program penghijauan ini dicetuskan oleh pemerintah, sebenarnya di perkampungan Gondolayu Lor ini dapat kita temukan bukan hanya bunga, tapi juga tanaman-tanaman apotek hidup seperti rempah-rempah dan yang lainnya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu apotek hidup ini berkurang dan akhirnya tidak ditemukan lagi di perkampungan ini.


PERMASALAHAN
1. Kelebihan Kampung Gondolayu Lor
Kampung ini terbilang mempunyai kondisi yang cukup kondusif untuk pendidikan. Hal ini dapat di lihat dari katersediaan sarana umum berupa Koran umum. Hal ini tentunya membantu masyarakan mempunyai akses terhadap perkembangan dunia luar, kondisi pemerintahan, dan menambah pengetahuan penduduk.
Banyaknya papan papan ‘himbauan’ yang berisi ajakan seperti ajakan hidup bersih, belajar dua jam sehari, dan lain-lain.
Pengelolaan sampah rumah tangga yang cukup baik.
Terciptanya suasana sejuk dan hijau ditengah terbatasnya lahan.

2. Permasalahan Yang Timbul
Sumber Air
Air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga desa Gondolayu diperoleh dari beberapa sumber, antara lain air PDAM dan air sumur, hal ini tergantung dengan kebijakan masing-masing pengurus rukun warga maupun rukun tetangga masyarakat setempat.

Bagi beberapa RT yang memiliki pengurus desa yang aktif, kini telah menggunakan PDAM sebagai sumber air bagi pemenuhan kebutuhan masak dan minum sedangkan untuk keperluan MCK(mandi, cuci, kakus) mereka menggunakan air dari sumur-sumur umum yang digunakan bersama,Hal ini dapat diusahakan setelah warga RT-RT tersebut berhasil mengajukan permohonan bantuan pada pemerintah daerah.

Untuk warga yang belum mendapatkan bantuan untuk pengusahaan air dari PDAM, mereka menggunakan sumur sebagai satu-satunya pemasok air untuk keperluan sehari-hari.Kebanyakan dari warga ini menggunakan dinamo untuk memudahkan pengambilan air dan seterusnya air akan dimasukkan kedalam penampungan yang diletakkan di sekitar rumah seperti yang sekarang sudah banyak digunakan di tempat-tempat lain.

Permasalahan : penggunaan PDAM baru dapat dinikmati oleh sebagian penduduk saja karena bantuan dari pemerintah masih belum mencapai lingkup desa secara keseluruhan.Bagi RT-RT yang belum mendapat bantuan ini, mereka menggunakan sumur sebagai sumber air utama.

Faktor penyebab : adanya kesenjangan tingkat keaktifan maupun tingkat kesadaran dari warga tiap-tiap RT serta kurang adanya koordinasi dari kepala desa sehingga penerimaan bantuan belum merata.

Sanitasi
Sistem sanitasi desa Gondolayu memiliki karakteristik yang hamper mirip degan desa-desa disepanjang tepian sungai (dalam hal ini adalah kali code). Meskipun dari wawancara yang kami lakukan terhadap salah seorang pengurus desa didapatkan informasi bahwa limbah rumah tangga warga tidak ada yang dibuang ke kali code, kami tetap menemukan ada beberapa sampah yang mengapung di kali tersebut. Selain itu kami juga melihat adanya pipa-pipa saluran pembuangan yang memang diarahkan langsung ke kali Code.

Permasalahan : sampah yang mengotori kali code yang kebanyakan merupakan limbah rumah tangga dapat menimbulkan kemungkinan adanya bencana banjir jika musim penghujan tiba.

Faktor penyebab : Belum adanya kesadaran dari masyarakat tentang bahayanya membuang sampah di sungai serta kurangnya pengawasan dari pihak pemda yang mengakibatkan warga mengotori sungai dengan sesukanya.



Sistem Drainase
Sistem Drainase desa Gondolayu terhitung belum cukup baik.akses-akses untuk tempat saluran aliran air hujan bias dikatakan belum dibangun secara serius.Hal ini dapat dilihat dari sempitnya selokan-selokan yang berada di tepian jalan, bahkan ada beberapa jalan yang tidakmemiliki selokan sebagai sarana aliran air hujan menuju sungai

Dilihat dari gambar diatas, dapat kita simpulkan bahwa pembangunan selokan sebagai komponen system drainase tidakmenjadi preoritas,hal ini kebanyakan karena area yang difungsikan sebagai jalan umum sangatlah terbatas, sehingga kemungkinan untuk menambahkan selokan disepanjang badan jalan sangat tidak memungkinkan.

Permasalahan : kurangnya selokan-selokan yang difungsikan sebagai akses air hujan yang akan dialirkan ke sungai code.

Faktor penyebab : kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengadaan system drainase pemukiman mengakibatkan pembangunan selokan-selokan sangat minim dilakukan.

Sampah
Permasalahan : Selain untuk pengelolaan sampah rumah tangga yang sudah cukup baik,, di _ampong ini juga terdapat tempat pembuangan sampah umum di tempat tempat yang strategis seperti lapangan dan di dekat mesjid. Akan tetapi, pengelolaan sampah yang sedemikian rupa ini hanya dapat menciptakan kawasan bersih di sekitar perumahan penduduk sedangkan di tempat sampah umum seperti di mesjid, sampah masih menjadi suatu masalah yang belum dapat dikelola dengan baik.seperti yang dapat kita lihat pada gambar:

Faktor Penyebab : Sampah yang berada di tempat umum membuat tidak ada warga yang merasa bertanggung jawab terhadap kebersihan wilayah tersebut hingga kebersihan tempat tempat umum ini tidak terkontrol.

Tata Guna Lahan
Permasalahan : minimnya tempat parkir hingga banyak warga yang memarkir kendaraannya pada malam hari sebatas jalan utama saja yang sebagiannya harus berada di pekarangan rumah agar tidak memenuhi badan jalan.

Faktor Penyebab : Keterbatasan lahan akibat lahan yang ada dipenuhi oleh bangunan terutama pemukiman tanpa mempertimbangkan keseimbangan lingkungan.

SOLUSI


1. Sumber air

Solusi :
Perlu diadakan sosialisasi mengenai pentingnya air bersih.
Peningkatan kerja sama dan koordinasi antar desa serta pemerintah dalam hal pemerataan air bersih dan sarana prasarana pendukungnya.


2. Sanitasi

Solusi :
Perlu diadakan pengawasan secara kontinyu baik oleh warga desa maupun pemerintah disepanjang kawasan kali Code terhadap pembuangan sampah maupun pencemaran lingkungan dalam bentuk lain.
Perlunya dibentuk peraturan pemerintah yang jelas mengenai perlindungan Sungai serta pelestarian lingkungan kawasan sepanjang aliran sungai.

3. Drainase

Solusi :
Pengoptimalan fungsi selokan dalam mengalirkan limbah rumah tangga.
Pembuatan sarana pengaliran dan pengolahan lmbah yang baik demi menjaga keseimbangan lingkungan kali Code.

4. Sampah

Solusi :
Pembentukan pengurus dan petugas pembuangan sampah umum harian.

5. Keterbatasan Lahan

Solusi :
Pembuatan parkir umum bertingkat dalam rangka meminimalkan penggunaan lahan.
Pemanfaatan ruang kosong secara optimal dalam rangka pengadaan kawasan hijau yang memadai.


KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian terhadap perkampungan penduduk Gondolayu Lor di Yogyakarta adalah sebagai berikut :

Banyak sisi positif dari perkampungan Gondolayu Lor di sekitar Kali Code, terutama kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.
Perlunya perbaikan dan perhatian masyarakat terhadap permasalahan yang ada misalnya sampah, sanitasi, drainase, ruang terbuka, sumber air, tata ruang,

Baca Juga : Pemukiman Padat Sebagai Implikasi Urbanisasi Di Desa Pogung

3 Responses to "Perkampungan Gondolayu Lor (Kali Code) Kecamatan Jetis Kota Yogyakarta"

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. menarik... terimakasih ilmunya...
    penasaran dengan follpw up kondisi gondolayu serta sungai-sungai yogyakarta...

    ReplyDelete

Berikan komentar disini...